DISKUSI Kamisan yang digelar DPW Hidayatullah DKI Jakarta pada Kamis, 3 September 2026, menghadirkan satu penegasan penting bahwa dakwah inklusif harus menjadi watak gerakan yang dirasakan manfaatnya oleh umat dan bangsa.
Mengangkat tema “Dakwah Inklusif, Memperluas Kebermanfaatan, Meneguhkan Jati Diri, Menguatkan Kolaborasi”, forum yang menghadirkan intelektual muslim asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus Direktur An Nahl Institute, Dr. KH Ahmad Buchory Muslim, itu relevan dengan arah perkembangan Hidayatullah hari ini.
Disinilah, gagasan dakwah inklusif yang dikembangkan Hidayatullah layak ditempatkan bukan sekadar menjadi jargon organisasi, melainkan sebagai konsekuensi logis dari watak Islam sebagai rahmat bagi semesta.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Naspi Arsyad dalam Lailatul Ijtima’ Rayon Bandung Raya dan Garut, 23 Agustus 2026, mengingatkan para dai agar tidak membatasi dakwah dan tidak memilih-milih sasaran. Menurutnya, orang baik terdapat di berbagai tempat dan latar belakang, sementara tugas dai adalah membangun komunikasi serta menghadirkan kedekatan.
Sesungguhnya arah tersebut bukan gagasan yang muncul secara tiba-tiba. Ia memiliki akar panjang dalam perjalanan Hidayatullah. Pada 2017, misalnya, dialog internasional yang diselenggarakan Syabab Hidayatullah menghadirkan Mufti Perlis Prof. Madya Dato’ Dr. Mohd. Asri Zainal Abidin untuk membahas “Islam Jalan Tengah Menyikapi Ekstrimisme Pemikiran”.
Forum tersebut memperlihatkan perhatian Hidayatullah terhadap posisi Islam yang tidak terjebak pada ekstremisme. Bahkan dalam forum yang sama, KH Hamim Thohari mengingatkan agar istilah wasathiyah digunakan secara proporsional dan dikembalikan kepada makna yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Karena itu, inklusivitas Hidayatullah tidak tepat dipahami sebagai upaya mengaburkan identitas atau mengurangi prinsip keislaman. Justru sebaliknya, inklusivitas merupakan cara agar nilai Islam keluar dari ruang internal menuju ruang kehidupan yang lebih luas.
Ketika Hidayatullah memasuki 50 tahun kedua, Ketua Dewan Pertimbangan, KH Hamim Thohari, secara terbuka menyatakan bahwa organisasi ini harus “lebih terbuka” dan “inklusif”. Pada saat yang sama, kaderisasi diarahkan agar lebih ekspansif dengan mengajak masyarakat terlibat dalam program-program Hidayatullah.
Di sinilah makna penting pernyataan pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said: “Selamat datang di alam realita, bukan alam cerita. Selamat berjuang di alam kenyataan, bukan alam pernyataan.” Pesan tersebut pada dasarnya menuntut dakwah untuk membuktikan nilai melalui tindakan.
Universalitas Peradaban Islam
Peradaban Islam tidak dibangun hanya melalui produksi wacana internal, tetapi melalui kehadiran yang dirasakan masyarakat seperti pendidikan yang membuka akses, pelayanan sosial yang menyentuh kelompok rentan, pemberdayaan ekonomi, pembinaan keluarga, kepedulian terhadap lingkungan, serta keberanian mengambil bagian dalam persoalan kebangsaan.
Yang perlu diperluas sekarang adalah konsekuensi sosial dari gagasan tersebut. Bila Islam dipahami sebagai rahmat bagi semesta, maka medan dakwah tidak mungkin dibatasi oleh pagar komunitas sendiri.
Masyarakat miskin, pelaku UMKM, pemuda, akademisi, pekerja, penyandang disabilitas, warga binaan pemasyarakatan, masyarakat desa, hingga kelompok-kelompok sosial yang selama ini jauh dari ruang dakwah, semuanya merupakan bagian dari medan pengabdian.
Hidayatullah perlu memastikan agar jaringan dakwahnya di berbagai daerah tidak hanya menjadi infrastruktur organisasi, tetapi menjadi simpul pelayanan masyarakat. Daerah harus dipandang bukan semata sebagai objek ekspansi, melainkan sebagai ruang tempat masyarakat memiliki kebutuhan, karakter, budaya, dan potensi yang berbeda.
Dakwah inklusif harus memberi ruang bagi kearifan lokal, memperkuat kapasitas masyarakat, dan membangun kolaborasi tanpa kehilangan prinsip-prinsip keislaman. Dakwah yang benar-benar inklusif harus mampu membaca keragaman tersebut.
Kita tidak boleh datang dengan sikap menggurui, apalagi menciptakan jarak sosial antara dai dan masyarakat. Dai harus hadir sebagai bagian dari masyarakat, memahami persoalan mereka, lalu menawarkan nilai Islam dalam bentuk yang relevan dan solutif.
Karena itu, ada setidaknya empat agenda yang perlu ditegaskan. Pertama, kader dan dai Hidayatullah harus memperluas ruang silaturahmi melampaui lingkungan internal organisasi. Kedua, program dakwah perlu semakin berbasis kebutuhan masyarakat dan potensi lokal.
Ketiga, kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, komunitas, akademisi, dan berbagai elemen kebangsaan harus diperluas tanpa kehilangan prinsip. Keempat, keberhasilan dakwah perlu diukur dari kemanfaatannya, berapa banyak masyarakat yang memperoleh pendidikan, penguatan ekonomi, pendampingan sosial, pembinaan keagamaan, dan solusi atas persoalan nyata.
Merangkul dalam Berbagai Keadaan
Bukan sekedar wacana, arah dakwah ini yeng telah tampak dalam praktik ini harus terus dikuatkan sebagai gerakan kolosal. Penyelenggeraan pelatihan ekonomi yang melibatkan kelompok rentan dan penyandang disabilitas serta menekankan pemanfaatan potensi lokal perlu terus ditingkatkan.
Pada Agustus 2026, Hidayatullah juga membawa pembinaan keagamaan ke lingkungan lembaga pemasyarakatan dengan pendekatan yang menekankan kesempatan bagi warga binaan untuk berubah dan kembali ke masyarakat. Ini menunjukkan bahwa inklusivitas akan memiliki makna ketika dakwah menyentuh manusia dalam berbagai keadaan, bukan hanya mereka yang sejak awal sudah dekat dengan lingkungan dakwah.
Dakwah inklusif bukan berarti Hidayatullah kehilangan jati diri. Justru jati diri diuji ketika nilai-nilai yang diyakini mampu hadir sebagai solusi bagi masyarakat luas. Wasathiyah bukan sekadar posisi “di tengah”, melainkan sikap adil, proporsional, terbuka, dan mampu menghadirkan maslahat tanpa kehilangan prinsip. Karena itu, gagasan memperluas dakwah adalah kebutuhan sejarah.
Hidayatullah harus berani bergerak dari “kita” menuju “umat” dan "bangsa", dari ruang internal menuju ruang publik, dari pernyataan menuju kenyataan, dan dari keberadaan organisasi menuju kebermanfaatan peradaban. Jika Islam diyakini sebagai jalan kebahagiaan bagi manusia, maka dakwah tidak boleh berhenti pada mereka yang sudah mengenalnya.
Dakwah harus mengetuk setiap pintu, hadir di tengah setiap persoalan, merangkul tanpa diskriminasi, dan membuktikan bahwa nilai Islam benar-benar membawa rahmat bagi kehidupan. Jati diri bukan dengan mempersempit lingkaran, tetapi dengan memperluas kebermanfaatan.[]

