BSY7GfrlBSA9BSAiGSOpTfdp
  • Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

Diskusi Kamisan Bahas Sinergi Kepemimpinan dan Manajemen dalam Mewujudkan Organisasi Agile


JAKARTA --
Integrasi antara kepemimpinan visioner dan manajemen yang terstruktur menjadi kunci utama dalam membangun organisasi yang agile yakni lincah, kolaboratif, dan memiliki impak luas bagi masyarakat. Hal tersebut ditegaskan oleh Analis Kebijakan Utama Kemendes PDT RI, Dr. H.M. Muhammad Nurdin, M.Si, dalam Diskusi Kamisan yang diselenggarakan secara daring oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Nurdin menyatakan bahwa Jakarta memiliki peran strategis sebagai barometer bagi Hidayatullah di seluruh Indonesia setelah Pengurus Pusat. Posisi sentral ini menuntut para pengurus untuk senantiasa belajar dan merenung agar Jakarta dapat menjadi arus inovasi dalam berbagai bidang. 

Menurutnya, esensi dari peran ini terletak pada kemampuan figur pemimpin dalam menggerakkan roda organisasi. "Kepemimpinan adalah kemampuan memengaruhi, mengarahkan, dan menginspirasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama," ungkap mantan Sekretaris Kementerian PDT periode 2011-2014 tersebut.

Dalam pemaparannya, Nurdin membedakan secara tegas namun komplementer antara kepemimpinan dan manajemen. Kepemimpinan berfokus pada penentuan arah, visi, dan penciptaan perubahan yang menginspirasi, sementara manajemen menitikberatkan pada sistem, proses, stabilitas, dan eksekusi. Ia mengingatkan bahwa setiap organisasi harus menerapkan kerangka kerja POAC, yakni planning, organizing, actuating, dan controlling, guna memastikan rencana berjalan efektif dan menghasilkan output yang konsisten.

Visi Pembangunan Daerah 3T

Lebih lanjut, Nurdin menekankan pentingnya pengarusutamaan visi pembangunan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang telah dirintis oleh pendiri Hidayatullah, Abdullah Said. 

Dia menegaskan, visi yang kuat ini tidak boleh hanya berhenti di tingkat pusat, melainkan harus meresap hingga ke pengurus tingkat kecamatan, kelurahan, bahkan desa. Untuk mencapai hal tersebut, pemimpin dituntut memiliki kemampuan komunikasi yang mumpuni untuk membangun kepercayaan tim.

Di sisi lain, Nurdin memandang komunikasi sebagai alat vital dalam membaca dinamika lingkungan. "Dengan komunikasi kita bisa membaca peluang dan tantangan serta bagaimana mengorkestrasi keduanya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi organisasi, bagi masyarakat, dan bagi agama dan bangsa," jelas Nurdin. 

Ia menambahkan bahwa kombinasi antara tipe kepemimpinan visioner, transformasional, dan kolaboratif akan menciptakan keseimbangan antara visi yang ambisius dengan eksekusi yang realistis. Di waktu yang sama, seorang pemimpin juga perlu untuk selalu menjaga kesehatan. 

"Kesehatan fisik pemimpin, kemauan untuk terus belajar, serta kemampuan untuk mendengar menjadi pendukung utama dalam misi dakwah dan pelayanan organisasi," tandasnya. (roy/adm)

Type above and press Enter to search.