BSY7GfrlBSA9BSAiGSOpTfdp
  • Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

Lailatul Ijtima Jakarta Tekankan Halaqah sebagai Jantung Gerakan Hidayatullah


Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta, Suhardi, S.Th.I., M.Pd., menegaskan bahwa halaqah bagaikan jantung bagi manusia yang mendenyuti pergerakan organisasi. “Halaqah biasa kita menegaskan sebagai jantung pergerakan organisasi,” katanya.

Hal itu disampaikan dia saat membuka Halaqah Gabungan dan Lailatul Ijtima yang diselenggarakan Dewan Pengurus Wilayah dan Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta di Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, pada Jumat malan (13/6/2026).

Suhardi menegaskan bahwa kekuatan organisasi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan program kerja, struktur, maupun rapat-rapat kelembagaan. Menurutnya, organisasi yang besar bertumpu pada kualitas individu yang memiliki ruhiyah, fikrah, dan akhlak yang terbangun melalui proses pembinaan yang berkelanjutan. Karena itu, terangnya, halaqah menjadi sarana utama dalam membentuk kader yang memiliki visi perjuangan yang lurus.

Ia mengutip firman Allah dalam Surah Ash-Shaff ayat 4 yang menyebutkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur laksana bangunan yang kokoh. Dalam konteks organisasi, Suhardi menjelaskan bahwa kekokohan bangunan tersebut berawal dari kokohnya halaqah yang membina kader-kader di dalamnya.

Menurutnya, seluruh gerakan dakwah yang berkembang dan bertahan dalam jangka panjang selalu bertumpu pada sistem pembinaan yang berjalan secara rutin dan terarah. Selain menjadi ruang pembelajaran, halaqah adalah wadah penanaman nilai, penguatan militansi, dan persiapan kader penerus. Ia menyebutkan bahwa saat ini Hidayatullah DKI Jakarta memiliki 24 kelompok halaqah dengan jumlah anggota mencapai ratusan orang. 

“Ini penting untuk didesain sedemikian baik agar bisa berjalan. Jumlah ini adalah kekuatan yang harus dioptimasi menjadi gerakan yang massif sehingga semua harus menjadi muharrik,” ujarnya.

Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta, Ustaz H. Asdar Majhari Petta Ewang, S.Ag., dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa halaqah merupakan bagian penting dalam menjaga kesinambungan perjuangan organisasi. 

Asdar Majhari menyampaikan bahwa tidak boleh ada kader yang terlepas dari kelompok pembinaan. Menurutnya, halaqah menjadi sarana untuk saling menguatkan harapan sekaligus memperteguh komitmen perjuangan di tengah dinamika dakwah.

Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota, Dr. Abdul Ghofar Hadi, serta Ketua Dewan Murabbi Pusat, Dr. H. Tasyrif Amin, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Abdul Ghofar Hadi menekankan pentingnya budaya membaca di kalangan anggota halaqah. Ia menyatakan bahwa halaqah akan hidup sebagai wahana ilmu apabila para anggotanya aktif membaca buku. 

Menurut Ghofar, halaqah bukan tempat untuk melakukan doktrinasi, melainkan ruang yang menguatkan daya pikir sehingga kader mampu menyampaikan dakwah kepada berbagai lapisan masyarakat. "Halaqah adalah episentrum peradaban,” tegasnya.

Sementara itu, Tasyrif Amin mengingatkan bahwa murabbi harus siap menjadi teladan bagi anggota binaannya. Ia menekankan bahwa keteladanan murabbi memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembinaan. 

Selain itu, ia mendorong kelompok-kelompok halaqah untuk mengembangkan dakwah yang lebih luas melalui pendekatan kepada komunitas-komunitas khusus, termasuk kalangan pengusaha dan akademisi. Menurutnya, pola tersebut pernah dipraktikkan oleh pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said, melalui berbagai kegiatan seminar di lingkungan perguruan tinggi. (din/den)

Type above and press Enter to search.