BSY7GfrlBSA9BSAiGSOpTfdp
  • Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

Forum Diskusi Kamisan Bahas Peran Strategis Halaqah dalam Membangun Kemajuan Ummat dan Bangsa


Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ust. H. Mohamadilis Karyadi, Lc., memaparkan gagasan mengenai reorientasi sistem pembinaan organisasi dalam acara daring Diskusi Kamisan yang digelar Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta pada Kamis (8/9/2026). 

Mengangkat topik "Transformasi Halaqah, Dari Rutinitas Pembinaan Menuju Gerakan Dakwah", diskusi ini menegaskan pentingnya menggeser fungsi halaqah dari sekadar agenda seremonial menjadi inkubator gerakan dakwah yang adaptif dan kontributif untuk bangsa. 

Reorientasi paradigma ini dipandang sangat penting agar seluruh rangkaian program dan pembinaan baik internal maupun eksternal yang dilakukan mampu menjawab dinamika zaman serta kebutuhan riil masyarakat Indonesia.

"Halaqah dalam perspektif Hidayatullah merupakan sarana internalisasi enam pilar utama jatidiri organisasi," kata Karyadi dalam forum yang dipandu moderator Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Jakarta, Munawwir Baddu ini.

Dia menyebutkan, pilar tersebut mencakup halaqah dan Sistematika Wahyu, halaqah dan ahlussunah wal jamaah, halaqah dan harakah Islamiyah, halaqah dan kepemimpinan,  halaqah dan kehidupan berjamaah, serta halaqah dan sikap wasathiyah. Dalam konteks keindonesiaan, integrasi keenam elemen ini membentuk karakter kader yang tidak hanya taat pada ajaran agama dan kepemimpinan Islam, tetapi juga memiliki kesadaran kontributif untuk kebaikan semesta. 

"Sikap wasathiyah menjadi pijakan untuk menjaga hubungan antarsesama dalam kemajemukan nasional, sementara semangat kehidupan berjamaah memperkuat kohesi sosial dan persatuan Indonesia," terangnya.

Transformasi halaqah menuntut perubahan kualitatif pada sikap mental dan keterlibatan aktif para anggotanya. Karyadi menegaskan bahwa indikator keberhasilan pembinaan tecermin ketika kader tidak hanya hadir, tapi berani mengajak orang lain serta tidak hanya menerima pembinaan, tetapi berani membina diri dan orang lain. 

Perubahan mentalitas ini mengubah peran anggota dari konsumen pengetahuan menjadi agen perubahan yang mandiri. Dalam ranah keindonesiaan, kemandirian kader ini menjadi modal penting untuk menggerakkan literasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat di berbagai wilayah Nusantara.

Lebih jauh, Karyadi menguraikan, arah baru halaqah ditandai oleh pergeseran fokus dari ranah wacana internal menuju tindakan konkret bagi publik. Menurutnya, reorientasi ini menuntut halaqah agar tidak hanya membicarakan masalah ummat, tetapi mulai memberi solusi ummat dan tidak hanya memiliki agenda internal, tetapi memiliki agenda eksternal. 

Dengan berorientasi pada agenda eksternal, gerakan Hidayatullah menyatu dengan denyut nadi persoalan bangsa, mulai dari pengentasan kemiskinan hingga pembinaan moral masyarakat. 

"Gerakan penguatan ini memastikan bahwa kehadiran halaqah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas," terangnya.

Pada tataran keberlanjutan organisasi, Karyadi menjelaskan, transformasi ini menjamin regenerasi kepemimpinan dakwah yang berkualitas dan berdampak luas. Hal tersebut dicapai karena pembinaan yang efektif tidak hanya menghasilkan peserta kajian, tapi menghasilkan kader dakwah serta tidak hanya mempertahankan anggota baru, tetapi melahirkan anggota baru. 

"Keberhasilan melahirkan kader-kader baru yang siap berkhidmat bagi agama dan negara memperkuat posisi Hidayatullah sebagai komponen bangsa yang konsisten mengabdi," tegasnya, seraya menambahkan bahwa transformasi halaqah ini pada akhirnya menegaskan komitmen Hidayatullah dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang berakhlak mulia demi terwujudnya Indonesia yang beradab dan sejahtera.

EDWARD KOHONDIFU

Type above and press Enter to search.