Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta menggelar Diskusi Kamisan pada Kamis, 24 September 2026, dengan mengangkat refleksi atas Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) bertajuk “Berani Tanpa Kehilangan Adab”.
Dalam forum tersebut, Ketua Departemen Pembinaan dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah Ust. Muhammad Chofadz, S.Ag memaparkan sejumlah pelajaran dari tradisi pendidikan Gontor, terutama mengenai pembentukan manusia, pemeliharaan adab, keteguhan sikap, dan kemandirian.
Chofadz mengawali refleksinya dengan menyoroti kompleksitas proses mendidik manusia. Ia mengaitkannya dengan pesan dalam Surah An-Nashr ayat 3: “Fa sabbiḫ biḫamdi rabbika wastaghfirh,” Ia menyebut spirit ayat tersebut sebagai harapan memperoleh maghfirah dalam proses pendidikan manusia yang tidak sederhana.
Salah satu tradisi Gontor yang disorot adalah pemeliharaan pesan-pesan kebaikan melalui mahfudzot. Menurut Chofadz, penggunaan struktur bahasa Arab yang indah melalui balaghah dan syair membuat mahfudzot tidak hanya berfungsi sebagai hafalan.
Materi tersebut membantu santri memperkaya mufrodat, memahami tata bahasa secara kontekstual, sekaligus melatih kemampuan berbicara dan menulis.
"Setiap bait juga memuat nilai moral, kedisiplinan, keteguhan mental, serta prinsip kehidupan yang diharapkan tetap melekat ketika santri memasuki masyarakat," kata alumni Gontor ini yang turut menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun PMDG di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Kampus Pusat Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, pada Sabtu, 19 September 2026 lalu.
Tradisi tersebut, kata Chofadz, tidak terbatas pada ungkapan berbahasa Arab. Para kiai Gontor juga menggunakan peribahasa Jawa untuk menyampaikan pelajaran. Ia mencontohkan ungkapan “jangan melek walang”, yang menggambarkan seseorang yang melihat dengan mata terbuka lebar tetapi tidak mampu menangkap substansi.
Ungkapan lain adalah “jangan seperti kera makan kulit manggis”, sebuah perumpamaan tentang sikap membuang sesuatu karena hanya menemukan rasa pahit pada permukaan, tanpa mengetahui adanya bagian yang manis di dalam.
Dalam pandangannya, keberanian tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari istiqamah dan keteguhan untuk tidak memiliki kepentingan selain karena Allah.
Chofadz juga mengutip prinsip para pendiri Gontor mengenai beratnya membangun pondok: menata hati sendiri, menata hati orang lain, menata hati senior, hingga menghadapi para senior yang berselisih. Semua itu, menurutnya, harus dihadapi dengan kesabaran dan adab.
Ia menekankan pentingnya menjaga ukhuwah dengan berpegang pada firman Allah, “Wa'tasimu bihablillahi jami'an wala tafarraqu.” Dalam konteks pendidikan, falsafah Gontor yang menggabungkan Al-Qur’an, pembiasaan, keteladanan, dan pembentukan kebiasaan melalui disiplin menjadi salah satu hal yang ia tekankan.
Chofadz juga membagikan pengalaman pribadinya ketika menjadi siswa Gontor. “KH Abdullah Sahal itu adalah wali kelas saya saat saya di Gontor duduk di Kelas 6C,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa sistem pendidikan Gontor memadukan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler sebagai bagian yang sama-sama penting.
Pada bagian akhir, Chofadz menilik aspek kemandirian yang menjadi bagian dari sistem pendidikan Gontor. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran bagi Hidayatullah dalam mengembangkan pendidikan dan pembinaan kader.
RANDI KOHONDIFU

